Showing posts with label Munakahat. Show all posts
Showing posts with label Munakahat. Show all posts
Berikut ini adalah isi buku catatan seorang perawan tua yang ingin sekali menikah dengan seorang lelaki yang saleh yang didambakan dapat menjaga kesucian serta kemuliaannya. Ia menyatakan kepada lelaki itu, “Saya tidak menginginkan materi apapun darimu. Bahkan misalnya kamu meminta harta kepadaku, aku akan memberikannya kepadamu, asalkan kamu mau menikah denganku.”

Selanjutnya silahkan Anda dengar sendiri, wahai pembaca yang budiman, cerita duka seorang gadis malang yang menyebut dirinya sebagai perawan tua. Ia mengatakan,

‘Buku catatanku ini berisi impian, angan – angan, bunga – bunga mawar, dan hati yang melayang disebuah taman yang asri penuh dengan kidung asmara, aneka kembang indah, kuda – kuda putih nan elok, dan lain sebagainya. Tetapi buku catatan ini aku tulis di atas dinding bebatuan hati yang pilu. Ketika aku mencium aroma harum perkawinan, darah pun mengucur deras dengan mendidih oleh panasnya rasa kerinduan, sehingga menimbulkan luka yang amat perih.

Aku mengiginkan kebahagiaan. Tetapi aku tidak sanggup menggapainya, karena aku masih tetap melajang. Ayahku melarangku keluar dari rumah. Sementara ibuku diam membisu. Ia hanya bias berkata sambil menangis; ‘Dahulu ketika aku masih seusiamu, aku digelandang oleh mereka sehingga akhirnya ayahmu bias ketemu dengan aku. Yang penting, selesaikan dahulu studimu.”

Mendengar itu saya berteriak, “Masya Allah! Lebih penting mana, studi ataukah membebaskan putrimu dari kekangan yang sangat menyiksa ini?”

Siapa bilang aku tidak bisa meneruskan studi setelah menikah nanti? Ilmu memang penting. Tetapi ia adalah masalah kedua, karena masalah pertama ialah menikah. Aku tidak habis pikir bagaimana masyarakat bisa menganggap hal itu sebagai aib? Padahal sejatinya aku ini justru sedang meniti yang halal dan mengikuti sunnah Nabiku Muhammad Shalallahu Alaihi wa Sallam.

Lalu bagaimana pandangan mereka jika yang aku sampai meniti yang haram? Tentu mereka akan membunuhku! Aku hany bisa memohon kepada Allah keteguhan, kesabaran, dan kelapangan. Itu hanya sekedar impian kosong. Ya, impian indah seorang gadis yang masih hidup melajang. Tetapi bagiku itu adalah impian yang menyiksa. Sekarang ini, siapa gadis yang hidupnya tidak merasa tersiksa jika masih menjadi perawan tua yang melewati masa – masa mudanya?

Perawan tua adalah nestapa bagi setiap wanita yang mengalaminya. Buktinya, perhatikan saja wajah – wajah murung mereka. Seandainya masyarakat mau tergerak memikirkan nasib dan penderitaan mereka tersebut, tentu dimuka bumi ini tidak aka nada wanita – wanita seperti mereka.

Benar. Dengan pilu aku katakan terus terang, bahwa orang sepertiku ini adalah laksana seekor singa lapar yang sedang berapa ditengah hutan yang penuh dengan aneka ragam makanan. Apa yang harus aku lakukan, wahai Tuhanku? Aku tahu, sesungguhnya orang yang sedang memegangi agamanya sekarang ini adalah seperti orang yang sedang memegangi seonggok bara yang sangat panas. Betapa orang akan sinis dan kasihan mendengar sebutan perawan tua.

Berkali – kali aku ingin mengibarkan bendera perkawinan setiap diundang menghadiri acara Walimah pengantin. Hatiku menjerit pilu setiap kali menyaksikan mempelai wanita dengan cantik mengenakan gaun pengantin yang berwarna putih dan pemerah pada sepasang pipinya. Perasaanku serasa sedang diaduk – aduk dan bergejolak tak menentu setiap melihat seorang wanita yang sedang mengandung sang calon buah hati. Dan hatiku terasa berdebar – berdebar keras setiap memandang anak – anak kecil sedang bermain didapanku dengan lucunya.

Tetapi yang bisa aku lakukan hanya sekedar menangis seraya membayangkan seandainya ku punya kesempatan untuk merasakan kebahagiaan – kebahagiaan itu.

Betapapun aku adalah manusia. Sebagai perawan tua aku masih punya harapan suatu waktu akan menikah. Jika sedang duduk didepan meja makan sendirian, aku membayangkan alangkah indahnya dan bahagianya jika ada lelaki pendamping hidup yang menemaniku. Tetapi itu hanya sekedar khayalan.

Wanita – wanita yang telah bersuami barangkali merasa terganggu oleh pertanyaan – pertanyaan yang aku ajukan; Apakah kamu merasa bahagia? Apakah suamimu benar – benar mencintaimu? Apakah ia masih setia meberimu hadiah – hadiah? Apakah…? Apakah…?

Aku mendengar kawanku memanggil istrinya, lalu mengajaknya bercanda, kemudian mereka pergi brjalan – jalan berdua kesebuah taman yang asri.

Ketika salah seorang dari mereka memandangku, aku berikap acuh dan tidak peduli dengan pura – pura menggosok – gosok mata yang tidak ada apa –apa. Padahal sejatinya di dasar hati yang paling dalam aku ingin seperti mereka. Bukankah aku ini juga manusia yang punya impian – impian indah seperti mereka?

Sangat boleh jadi mereka mengetahui apa yang sedang aku pikirkan.

Sebenarnya aku ingin sekali temanku itu menyapa atau memanggilku, sehingga aku akan segera menoleh kearahnya sambil tersenyum seraya menjawab, “Ya ada apa?” Tetapi itu hanya sekedar impian.

Aku mendengar adik perempuanku yang sudah menikah suatu hari berkata kepadaku, “Seandainya aku masih menjadi seorang gadis sepertimu…sebab perkawinan itu hanyalah tanggung jawab dan beban penderitaan.”

Boleh saja ia mengaku tidak bahagia atas perkawinannya dengan alasan karena suaminya tidak menyenangkan, atau tidak penuh perhatian, dan alasan – alasan lain. Tetapi seorang perawan tua sepertiku ini, bagaimanapun juga tetap memimpikan kehadiran seorang suami yang akan memberikan rasa cinta kasih dan sayang dan lembut, serta perhatian tulus kepadaku. Aku tidak peduli kedudukannya, dan aku juga tidak peduli sekalipun ia orang miskin. Sebab aku tetap percaya pada firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala, “Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya.” Aku tidak perduli kewarganegaraannya, apakah ia orang arab atau orang non arab. Yang penting bagiku ia orang muslim yang taat kepada syari’at Allah dan bersedia bersama – sama dengan ku membina kehidupan yang bahagia. Jika ia memanggilku, aku akan memenuhi panggilannya dengan segenap jiwa danb ragaku. Sesungguhnya aku hanya ingin mencari ridha Allah.

Mendekatlah kepadaku, wahai pasangan hidupku. Dengan izin Allah kamu akan mendapatkan kebahagian rumah tangga bersamaku. Datanglah, dan jangan kamu hiraukan masalah materi. Kita dapati banyak orang – orang miskin yang justru sangat dicintai oleh Allah. Aku bersedia untuk menerima yang sedikit. Bahkan kalau mau, aku kan memberimu harta. Jangan persoalkan dirimu yang bukan orang arab, karena aku pasti akan menerimamu. Yang aku utamakan ialah kebaikan akhlak, dan hal itu tidak memandang unsure kebangsaan. Pinanglah dan nikahilah aku, walaupun dengan maskawin hafalan ayat Alqur’an. Sebab, bagiku itu adalah maskawin yang paling mahal di muka bumi. Datanglah, karena aku masih setia menantimu dan mengharapkanmu.

Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu seorang suami yang saleh.”


A.M.S
Riyadh


_____________
Syaikh Hafizh Ali Syuaisyi’, Tuhfah Al-Arus wa Bahjah An-Nufus “Kado Pernikahan” Hal: 46-50, lihat, Majalah Al-Usrah As-Sa’udiyah, edisi 74.
Pesan isteri ‘Auf bin Muslim Ashaibani kepada puterinya yang bakal  berkawin dengan al Haris bin Amr, raja negeri Kandah.

“Wahai anakku! Kalaulah wasiat ini untuk kesempurnaan adabmu, aku percaya kau telah mewarisi segala-galanya, tetapi ia sebagai peringatan untuk yang lalai dan panduan bagi orang yang menggunakan akal. 

Andai kata wanita tidak memerlukan suami kerana berasa cukup dengan kedua ibu bapanya, tentu ibumu adalah orang yang paling berasa cukup tanpa suami. Tetapi wanita diciptakan untuk lelaki dan lelaki diciptakan untuk wanita.

Wahai puteriku, Sesungguhnya engkau akan meninggalkan rumah tempat kamu dilahirkan dan kehidupan yang telah membesarkanmu untuk berpindah kepada seorang lelaki yang belum kamu kenal dan teman hidup yang baru. 

Kerana itu, jadilah 'hamba' wanita baginya, tentu dia juga akan menjadi 'hamba' lelaki bagimu serta menjadi pendampingmu yang setia. Peliharalah sepuluh sifat ini terhadapnya, tentu ia akan menjadi perbendaharaan yang baik untukmu:

Pertama dan kedua, berkhidmat dengan rasa puas serta taat dengan baik kepadanya.

Ketiga dan keempat, memerhatikan tempat pandangan matanya dan bau yang diciumnya. Jangan sampai matanya memandang yang tidak cantik daripadamu dan jangan sampai dia mencium bau yang busuk daripadamu.

Kelima dan keenam, memerhatikan waktu tidur dan waktu makannya, kerana lapar yang berlarutan dan tidur yang terganggu dapat menimbulkan rasa marah.

Ketujuh dan kelapan, menjaga hartanya dan memelihara kehormatan serta keluarganya. Perkara pokok dalam masalah harta adalah membuat kira-kira dan perkara pokok dalam keluarga adalah pengurusan yang baik.

Kesembilan dan kesepuluh, jangan membangkang perintahnya dan jangan membuka rahsianya. Apabila kamu mengengkari perintahnya, bererti kamu melukai hatinya. Apabila kamu membuka rahsianya kamu tidak akan selamat daripada pengkhianatannya.

Kemudian janganlah kamu bergembira di hadapannya ketika dia bersedih atau bersedih di hadapannya ketika dia bergembira.

Jadilah kamu orang yang sangat menghormatinya, tentu dia akan sangat memuliakanmu.

Jadilah kamu orang yang selalu sekata dengannya, tentu dia akan sangat belas kasihan dan sayang kepadamu.

Ketahuilah, sesungguhnya kamu tidak akan dapat apa yang kamu inginkan sehingga kamu mendahulukan kehendaknya daripada keredaanmu, dan mendahulukan kegembiraannya daripada kesenanganmu, baik dalam hal yang kamu sukai atau yang tidak kamu senangi dan Allah pasti memberkatimu.”

(Kitab al-Bayan wa'l-Tabyin oleh al-Jahiz)
Saudariku muslimah, tahukah kamu siapa suamimu di surga kelak?
Ini bukan ramalan dan bukan pula tebakan, tapi kepastian (atau minimal suatu prediksi yang insya Allah sangat akurat), yang bersumber dari wahyu dan komentar para ulama terhadapnya. Berikut uraiannya:

Perlu diketahui bahwa keadaan wanita di dunia, tidak lepas dari enam keadaan:
1.    Dia meninggal sebelum menikah.
2.    Dia meninggal setelah ditalak suaminya dan dia belum sempat menikah lagi sampai meninggal.
3.    Dia sudah menikah, hanya saja suaminya tidak masuk bersamanya ke dalam surga, wal’iyadzu billah.
4.    Dia meninggal setelah menikah baik suaminya menikah lagi sepeninggalnya maupun tidak (yakni jika dia meninggal terlebih dahulu sebelum suaminya).
5.    Suaminya meninggal terlebih dahulu, kemudian dia tidak menikah lagi sampai meninggal.
6.    Suaminya meninggal terlebih dahulu, lalu dia menikah lagi setelahnya.

Berikut penjelasan keadaan mereka masing-masing di dalam surga:
ý    Perlu diketahui bahwa keadaan laki-laki di dunia, juga sama dengan keadaan wanita di dunia: Di antara mereka ada yang meninggal sebelum menikah, di antara mereka ada yang mentalak istrinya kemudian meninggal dan belum sempat menikah lagi, dan di antara mereka ada yang istrinya tidak mengikutinya masuk ke dalam surga. Maka, wanita pada keadaan pertama, kedua, dan ketiga, Allah -’Azza wa Jalla- akan menikahkannya dengan laki-laki dari anak Adam yang juga masuk ke dalam surga tanpa mempunyai istri karena tiga keadaan tadi. Yakni laki-laki yang meninggal sebelum menikah, laki-laki yang berpisah dengan istrinya lalu meninggal sebelum menikah lagi, dan laki-laki yang masuk surga tapi istrinya tidak masuk surga.

Ini berdasarkan keumuman sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- dalam hadits riwayat Muslim no. 2834 dari sahabat Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu-:
مَا فِي الْجَنَّةِ أَعْزَبٌ
“Tidak ada seorangpun bujangan dalam surga”.
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin -rahimahullah- berkata dalam Al-Fatawa jilid 2 no. 177, “Jawabannya terambil dari keumuman firman Allah -Ta’ala-:
وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ. نُزُلاً مِنْ غَفُوْرٍ رَحِيْمٍ
“Di dalamnya kalian memperoleh apa yang kalian inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kalian minta. Turun dari Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Fushshilat: 31)
Dan juga dari firman Allah -Ta’ala-:
وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنْفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kalian kekal di dalamnya.” (Az-Zukhruf: 71)

Seorang wanita, jika dia termasuk ke dalam penghuni surga akan tetapi dia belum menikah (di dunia) atau suaminya tidak termasuk ke dalam penghuhi surga, ketika dia masuk ke dalam surga maka di sana ada laki-laki penghuni surga yang belum menikah (di dunia). Mereka -maksud saya adalah laki-laki yang belum menikah (di dunia)-, mereka mempunyai istri-istri dari kalangan bidadari dan mereka juga mempunyai istri-istri dari kalangan wanita dunia jika mereka mau. Demikian pula yang kita katakan perihal wanita jika mereka (masuk ke surga) dalam keadaan tidak bersuami atau dia sudah bersuami di dunia akan tetapi suaminya tidak masuk ke dalam surga. Dia (wanita tersebut), jika dia ingin menikah, maka pasti dia akan mendapatkan apa yang dia inginkan, berdasarkan keumuman ayat-ayat di atas”.

Dan beliau juga berkata pada no. 178, “Jika dia (wanita tersebut) belum menikah ketika di dunia, maka Allah -Ta’ala- akan menikahkannya dengan (laki-laki) yang dia senangi di surga. Maka, kenikmatan di surga, tidaklah terbatas kepada kaum lelaki, tapi bersifat umum untuk kaum lelaki dan wanita. Dan di antara kenikmatan-kenikmatan tersebut adalah pernikahan”.

ý    Adapun wanita pada keadaan keempat dan kelima, maka dia akan menjadi istri dari suaminya di dunia.

ý    Adapun wanita yang menikah lagi setelah suaminya pertamanya meninggal, maka ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagian ulama -seperti Syaikh Ibnu ‘Ustaimin- berpendapat bahwa wanita tersebut akan dibiarkan memilih suami mana yang dia inginkan.
Ini merupakan pendapat yang cukup kuat, seandainya tidak ada nash tegas dari Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- yang menyatakan bahwa seorang wanita itu milik suaminya yang paling terakhir. Beliau -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
اَلْمَرْأَةُ لِآخِرِ أَزْوَاجِهَا
“Wanita itu milik suaminya yang paling terakhir”. (HR. Abu Asy-Syaikh dalam At-Tarikh hal. 270 dari sahabat Abu Darda` dan dishohihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Ash-Shohihah: 3/275/1281)
Dan juga berdasarkan ucapan Hudzaifah -radhiyallahu ‘anhu- kepada istri beliau:
إِنْ شِئْتِ أَنْ تَكُوْنِي زَوْجَتِي فِي الْجَنَّةِ فَلاَ تُزَوِّجِي بَعْدِي. فَإِنَّ الْمَرْأَةَ فِي الْجَنَّةِ لِآخِرِ أَزْوَاجِهَا فِي الدُّنْيَا. فَلِذَلِكَ حَرَّمَ اللهُ عَلَى أَزْوَاجِ النَّبِيِّ أَنْ يَنْكِحْنَ بَعْدَهُ لِأَنَّهُنَّ أَزْوَاجُهُ فِي الْجَنَّةِ
“Jika kamu mau menjadi istriku di surga, maka janganlah kamu menikah lagi sepeninggalku, karena wanita di surga milik suaminya yang paling terakhir di dunia. Karenanya, Allah mengharamkan para istri Nabi untuk menikah lagi sepeninggal beliau karena mereka adalah istri-istri beliau di surga”. (HR. Al-Baihaqi: 7/69/13199 )

Faidah:
Dalam sholat jenazah, kita mendo’akan kepada mayit wanita:
وَأَبْدِلْهَا زَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهَا
“Dan gantilah untuknya suami yang lebih baik dari suaminya (di dunia)”.
Masalahnya, bagaimana jika wanita tersebut meninggal dalam keadaan belum menikah. Atau kalau dia telah menikah, maka bagaimana mungkin kita mendo’akannya untuk digantikan suami sementara suaminya di dunia, itu juga yang akan menjadi suaminya di surga?
Jawabannya adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin -rahimahullah-. Beliau menyatakan, “Kalau wanita itu belum menikah, maka yang diinginkan adalah (suami) yang lebih baik daripada suami yang ditakdirkan untuknya seandainya dia hidup (dan menikah). Adapun kalau wanita tersebut sudah menikah, maka yang diinginkan dengan “suami yang lebih baik dari suaminya” adalah lebih baik dalam hal sifat-sifatnya di dunia (2). Hal ini karena penggantian sesuatu kadang berupa pergantian dzat, sebagaimana misalnya saya menukar kambing dengan keledai. Dan terkadang berupa pergantian sifat-sifat, sebagaimana kalau misalnya saya mengatakan, “Semoga Allah mengganti kekafiran orang ini dengan keimanan”, dan sebagaimana dalam firman Allah -Ta’ala-:
يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ وَالسَّمَوَاتُ
“(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit.” (Ibrahim: 48)
Bumi (yang kedua) itu juga bumi (yang pertama) akan tetapi yang sudah diratakan, demikian pula langit (yang kedua) itu juga langit (yang pertama) akan tetapi langit yang sudah pecah”. Jawaban beliau dinukil dari risalah Ahwalun Nisa` fil Jannah karya Sulaiman bin Sholih Al-Khurosy.


Sumber: al-atsariyyah.com
Hari pernikahanku. Hari yang paling bersejarah dalam hidup. Seharusnya saat itu aku menjadi makhluk yang paling berbahagia. Tapi yang aku rasakan justru rasa haru biru. Betapa tidak. Di hari bersejarah ini tak ada satupun sanak saudara yang menemaniku ke tempat mempelai wanita. Apalagi ibu. Beliau yang paling keras menentang perkawinanku.

Masih kuingat betul perkataan ibu tempo hari, “Jadi juga kau nikah sama ‘buntelan karung hitam’ itu ….?!?”

Duh……
hatiku sempat kebat-kebit mendengar ucapan itu. Masa calon istriku disebut ‘buntelan karung hitam’

“Kamu sudah kena pelet barangkali Yanto. Masa suka sih sama gadis hitam, gendut dengan wajah yang sama sekali tak menarik dan cacat kakinya. Lebih tua beberapa tahun lagi dibanding kamu !!” sambung ibu lagi.

“Cukup Bu! Cukup! Tak usah ibu menghina sekasar itu. Dia kan ciptaan Alloh. Bagaimana jika pencipta-Nya marah sama ibu…?”  Kali ini aku terpaksa menimpali ucapan ibu dengan sedikit emosi. Rupanya ibu amat tersinggung mendengar ucapanku.

“Oh…. rupanya kau lebih memillih perempuan itu ketimbang keluargamu. Baiklah Yanto. Silahkan kau menikah tapi jangan harap kau akan dapatkan seorang dari kami ada di tempatmu saat itu. Dan jangan kau bawa perempuan itu ke rumah ini !!”

DEGG !!!!

***

“Yanto… jangan bengong terus. Sebentar lagi penghulu tiba,” teguran Ismail membuyarkan lamunanku.

Segera kuucapkan istighfar dalam hati. 

“Alhamdulillah penghulu sudah tiba. Bersiaplah …akhi,” sekali lagi Ismail memberi semangat padaku.

“Aku terima nikahnya, kawinnya Shalihah binti Mahmud almarhum dengan mas kawin seperangkat alat sholat tunai !”

Alhamdulillah lancar juga aku mengucapkan akad nikah.

“Ya Alloh hari ini telah Engkau izinkan aku untuk meraih setengah dien. Mudahkanlah aku untuk meraih sebagian yang lain.”


***

Dikamar yang amat sederhana. Di atas dipan kayu ini aku tertegun lama. Memandangi istriku yang tengah tertunduk larut dalam dan diam. Setelah sekian lama kami saling diam, akhirnya dengan membaca basmalah dalam hati kuberanikan diri untuk menyapanya.

“Assalamu’alaikum …. permintaan hafalan Qur’annya mau di cek kapan De’…?” tanyaku sambil memandangi wajahnya yang sejak tadi disembunyikan dalam tunduknya.

Sebelum menikah, istriku memang pernah meminta malam pertama hingga ke sepuluh agar aku membacakan hafalan Qur’an tiap malam satu juz. Dan permintaan itu telah aku setujui.

“Nanti saja dalam qiyamullail,” jawab istriku, masih dalam tunduknya.

Wajahnya yang berbalut kerudung putih, ia sembunyikan dalam-dalam. Saat kuangkat dagunya, ia seperti ingin menolak. Namun ketika aku beri isyarat bahwa aku suaminya dan berhak untuk melakukan itu, ia menyerah.

Kini aku tertegun lama. Benar kata ibu.. bahwa wajah istriku ‘tidak menarik’.
Sekelebat pikiran itu muncul…. dan segera aku mengusirnya. Matanya berkaca-kaca menatap lekat pada bola mataku.

“Bang, sudah saya katakan sejak awal ta’aruf, bahwa fisik saya seperti ini. Kalau Abang kecewa, saya siap dan ikhlas. Namun bila Abang tidak menyesal beristrikan saya, mudah-mudahan Alloh memberikan keberkahan yang banyak untuk Abang. Seperti keberkahan yang Alloh limpahkan kepada Ayahnya Imam malik yang ikhlas menerima sesuatu yang tidak ia sukai pada istrinya. Saya ingin mengingatkan Abang akan firman Alloh yang dibacakan ibunya Imam Malik pada suaminya pada malam pertama pernikahan mereka,” …

“Dan bergaullah dengan mereka (istrimu) dengat patut (ahsan). Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjanjikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS An-Nisa:19)

Mendengar tutur istriku, kupandangi wajahnya yang penuh dengan air mata itu lekat-lekat. Aku teringat kisah suami yang rela menikahi seorang wanita yang memiliki cacat itu. Dari rahim wanita itulah lahir Imam Malik, ulama besar ummat Islam yang namanya abadi dalam sejarah.

“Ya Robbi.. aku menikahinya karena-Mu. Maka turunkanlah rasa cinta dan kasih sayang milik-Mu pada hatiku untuknya. Agar aku dapat mencintai dan menyayanginya dengan segenap hati yang ikhlas.”

Pelan kudekati istriku. Lalu dengan bergetar, kurengkuh tubuhya dalam dekapku. Sementara, istriku menangis tergugu dalam wajah yang masih menyisakan segumpal ragu.

“Jangan memaksakan diri untuk ikhlas menerima saya, Bang. Sungguh… saya siap menerima keputusan apapun yang terburuk,” ucapnya lagi.

“Tidak…De’. Sungguh sejak awal niat Abang menikahimu karena Alloh. Sudah teramat bulat niat itu. Hingga Abang tidak menghiraukan ketika seluruh keluarga memboikot untuk tak datang tadi pagi,” paparku sambil menggenggam erat tangannya.

***
Malam telah naik ke puncaknya pelan-pelan. Dalam lengangnya bait-bait do’a kubentangkan pada Nya.
“Robbi, tak dapat kupungkiri bahwa kecantikan wanita dapat mendatangkan cinta buat laki-laki. Namun telah kutepis memilih istri karena rupa yang cantik karena aku ingin mendapatkan cinta-Mu. Robbi saksikanlah malam ini akan kubuktikan bahwa cinta sejatiku hanya akan kupasrahkan pada-Mu. Karena itu, pertemukanlah aku dengan-Mu dalam Jannah-Mu !”

Aku beringsut menuju pembaringan yang amat sederhana itu. Lalu kutatap raut wajah istriku denan segenap hati yang ikhlas. Ah, .. sekarang aku benar-benar mencintainya. Kenapa tidak? Bukankah ia wanita shalihah sejati. Ia senantiasa menegakkan malam-malamnya dengan munajat panjang pada-Nya. Ia senantiasa menjaga hafalan Kitab-Nya. Dan senantiasa melaksanakan shoum sunnah Rasul-Nya. 

“…dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya pada Allah …” (QS. al-Baqarah:165)
oleh: Annisa Azka Abiyyah

Bismillaah…
Mengajak untuk menanti jodoh dengan sabar

Karena ku tahu, agamaku hanya akan sempurna bersamamu…

Tapi, masih tetap sempurnahkah agamaku, jika tak ada lagi ketaqwaan disana?
Cinta, siapa di dunia ini yang tak pernah merasakannya?

Kami pernah…
Kami yakin dia juga pernah…
Kau juga pernah…
Merekapun juga pernah…

:: Inilah Cinta ::

Begitu banyak defenisi tentang cinta. Tidak ingin mengajarimu tentang pengertian cinta. Terserah, seperti apa ingin kau defenisikan cinta.Karena, kami sendiripun  tidak dapat mendefenisikannya, hanya dapat merasakan…
Ketika kami dapati sepasang suami istri, pada pusat pembelanjaan. Membawa tiga orang anak-anaknya yang begitu lucu. Senang dengan cara orang tuanya yang menutup tubuh anak-anaknya  dengan pakaian yang begitu syar’i. Kagum. Kamipun ingin cinta seperti itu…

Atau ketika mendengar cerita tentang kegigihan sepasang suami istri dalam mempertahankan cinta murninya yang berlandaskan kecintaan pada Allah, keimanan yang begitu besar. Maka kami juga ingin cinta seperti itu…
Kami ingin, dan selalu ingin. Bahkan mungkin tak perlu kau tanya lagi seberapa besar keinginan kami…
Kami mengakui kami ini lemah. Sebesar apa kekuatan kami tanpa seorang imam?

Ketika dunia kadang memojokkan kami, dengan segala alasan menentang keberadaan kami. Mencari-cari alasan apa saja yang bisa. Sebentang kain yang kami pakai karena mematuhi perintah Allah, bisa dijadikan lelucon bagi mereka. Belum lagi, masalah sepele kaos kaki hitam ini, itu pun bisa dijadikan lelocon mereka. Kadang dengan hal sepele ini saja, datang rasa rindu kami pada seorang imam…

Menanti lagi dengan penuh harap. Kapan dia datang.


:: Keterpojokan Itu Mulai Datang ::

Ketika dalam suatu acara keluarga, mereka para sepupu yang datang dan mengenalkan “kekasihnya” pada keluarga. Ternyata malah kami yang banyak mendapat pertanyaan, “kapan mau mengenalkan  kekasihmu pada keluarga?”
Atau ketika dalam suatu acara keluarga lagi. Ada kesenjangan cinta antara dua orang tadi. Kamipun dijadikan tempat argumentasi mereka lagi, ”makanya kenali dulu sifatnya benar-benar sebelum menikah, biar tidak menyesal nantinya”
Apakah bagi mereka waktu selama itu tidak cukup untuk saling mengenal? Bertahun- tahun. Tapi tidak mendapatkan hasil.

Pernah juga kami dapati seseorang berkata seperti ini pada kami, “jangan banyak memilih, nanti malah tidak ada yang jadi sama sekali”.
Benarkah argumentasi seperti itu?
Kami ingin membantahnya. Bukankah nasehat itu sudah jelas?
Kita hanya dilarang menolak seseorang yang datang dengan keimanan.


:: Tapi Kadang Harapan Itupun Juga Berguguran ::

Suatu kisah yang begitu menyayat hati. Ketika pada suatu saat kami dapati seorang istri yang begitu serius menceritakan aib suaminya pada wanita-wanita lain. Bahkan menjadikannya sebagai suatu gurauan yang perlu dijadikan tertawaan yang begitu lucu. Astaghfirullah begitu miris melihatnya. Menjatuhkan derajat suami sendiri dihadapan orang lain. Entah apa yang ada dipikirannya.

Atau ketika kami melihat seorang istri yang sedang memarahi suaminya.
Astaghfirullah, suaranya begitu lantang. Memecahkan kesunyian. Memarahi suami tanpa ada rasa hormat sama sekali. Bahkan tega ketika semua orang harus mengetahui kesalahan suaminya itu. Dengan kata-kata yang kasar pula, padahal sang suami hanya diam saja.

Ada pula sepasang suami istri yang berantem tanpa memperdulikan tetangga-tetangganya. Teriak sana teriak sini, melontarkan kata-kata yang tak semestinya, bukan melontarkan kata-kata orang yang sedang jatuh cinta.
Allahul Musta’an…

Inikah pernikahan?
Inikah yang kau nanti-nanti itu?
Kenapa cinta yang awalnya begitu manis, menjadi pahit seperti itu?

Ukhti…, disinilah saatnya kita memahami. Mungkin inilah alasan mengapa Allah sampai saat ini belum mempertemukan engkau dengan seseorang yang kau nanti.
Allah menginginkan engkau menjadi wanita yang paling sholehah di kehidupan suamimu kelak.
Allah memberikan waktu kepadamu sebelum kau menemukan jodohmu untuk mempelajari hak dan kewajiban yang mesti kau pahami.
Lalu, bukankah ini semua nikmat..?

Mari belajar dari Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwalid.  Belajar dari ketaatannya pada suami. Belajar tentang bagaimana seorang istri mulia yang begitu percaya pada suaminya. Belajar dari sikap lemah lembutnya, sehingga sang suamipun bisa tenang berada di dekatnya.

Belajar pula pada Fatimah binti Muhammad. Dia rela hidup dalam kefakiran untuk mengecap manisnya iman bersama ayah dan suaminya tercinta.  Dia korbankan segala apa yang dimilikinya demi membantu menegakkan agama suaminya. Wanita yang penyabar, taat beragama, baik perangainya, cepat merasa puas dan selalu  bersyukur pada apa yang dimiliknya.

Atau Maryam binti Imran. Merupakan lambang wanita yang menjaga kehormatnan dirinya dan taat beribadah kepada Rabbnya. Beliau rela mengorbankan masa remajanya untuk bermunajat mendekatkan diri kepada Allah, sehingga Allah memberinya hadiah istimewa seorang Nabi dari rahimnya tanpa bapak.

Lalu pada Asiyah binti Muzahim. Betapa besar pun kecintaan dan kepatuhannya pada suami,ternyata dihatinya masih tersedia tempat tinggi yang dia isi dengan cinta sepenuh pada Allah dan Rasul-Nya.  Syurga menjadi tujuan akhirnya.
Atau pada wanita-wanita mulia lainnya.

Semua ini bukan hanya nasehat bagi wanita-wanita yang belum mengetahui tentang ilmu berumah tangga. Karena kadang, wanita yang sudah pahampun, masih suka melakukan sifat “kufur” pada suami.

“Saya melihat kebanyakan penghuni neraka adalah kaum wanita.” Para sahabat bertanya, “Mengapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Mereka mengingkari keluarga dan kebaikan-kebaikan suami. Jika sekiranya engkau berbuat baik kepadanya, lalu ia melihat sedikit kekurangan darimu, maka ia berkata: ‘Saya tidak melihat suatu kebaikan darimu sama sekali’.” (HR. Al-Bukhari no. 29 dan Muslim no. 907)

Wahai saudariku, pahamilah apalagi yang kau cari…

“Jika seorang wanita menjaga shalat lima waktu, berpuasa pada bulannya, menjaga kehormatannya dan menaati suaminya, niscaya dia masuk surga dari pintu mana saja yang dia inginkan.”(HR. Ahmad)

Kami berharap, kita sama-sama dapat mengintropeksi diri. Menanti dengan sabar seseorang yang begitu baik agamanya dengan cara memperbaiki agama kita terlebih dahulu. Sibukkan diri dengan menuntut ilmu.

Maka, sampai saatnya kita menutup mata nanti , menutup mata dengan keridhaan suami pada kita.
Apalagi yang kita cari?

Bahkan surgapun menunggu kita untuk menjadi bidadari di dalamnya…



Dear Ukhti………
apa kabar imanmu hari ini?
semoga selalu menapak maju
apa kabar hatimu hari ini?
semoga selalu bersih dari debu juga kelabu
apa kabar cintamu hari ini?
semoga selalu berpeluh rindu pada Nya…

Ukhti..
sungguh indah hidup setelah menikah
apa yang sebelumnya haram menjadi halal
semua perbuatannya mendapat pahala yang berlimpah di sisiNya
suka duka dilalui berdua
senang sedih ada yang menemani
tawa tangis pun bersama

Ukhti..
menikah adalah setengah dien,
dan ia menggenapkan dien menjadi satu…
sungguh, menikah seperti melihat dunia lain
yang tiada pernah dikunjungi sebelumnya…
apa yang tidak bisa dilihat sebelum menikah
kini tidak lagi,
seakan membuka mata kanan
yang sebelumnya belum pernah dibuka
begitu luas, begitu indah,
hingga Rasul pun menyunnahkan suatu pernikahan ini:

“bukan termasuk ummatku, jika ia berkeinginan tidak menikah…”

Ukhti..
menikah adalah keputusan besar dari suatu perjanjian berat
pernah ada yang berkata..
“saat akad diucapkan Arsy tertinggi berguncang karena suatu perjanjian
berat diucapkan, karena itu saat akad terjadi ada tangis disana..tangis
suka, tangis duka…”
Allah menjadi saksi karena Dia Yang Maha Melihat lagi Menatap
dan setiap undangan yang datang akan mendoakan pernikahan ini

Ukhti..yang sedang menanti “terkasih”
nanti-lah dengan sabar…
sungguh, Allah Maha Tau yang terbaik untuk dirimu
siapkan dirimu, hatimu..
sangat mudah bagiNya memberikan “terkasih” untukmu
ataupun tidak berharap
dan mintalah padaNya..
pemilik alam raya dan pencipta “terkasih”mu

Ukhti..yang sedang menjelang akad
berdoa-lah selalu padaNya
penentu segalaNya…
mohon petunjukNya jika “terkasih” adalah yang terbaik untukmu
kemudahan, juga kelancaran dalam peristiwa besar nanti
sungguh, Allah Maha Tau yang terbaik untuk dirimu..
siapkan dirimu, hatimu..

Ukhti..yang telah menikah
jagalah nikmatNya yang besar ini
hanya dengan izinNya dirimu dan “terkasih”mu bersatu,
tiada yang lain…
jadilah penyejuk hati dan pandangannya..
menjadi istri sholehah dambaan..

Ukhti..
bahagiamu adalah bahagiaku
sedihmu juga sedihku
tawamu, tawaku juga
tangismu adalah tangisku
semoga Allah Yang Maha Indah,
memudahkan langkah ini..
memberikan yang terbaik menurutNya
dan menjadikan wanita dan istri juga ibu sholehah…
Untuk mereka yang sudah memiliki arah…
Untuk mereka yang belum memiliki arah…
dan untuk mereka yang tidak memiliki arah…

Nasihat pernikahan...
untuk semuanya…
Semua yang menginginkan kebaikan.

****
Saudaraku…
Nikah itu ibadah…
Nikah itu suci,ingat itu…

Memang nikah itu bisa karena harta, bisa karena kecantikan, bisa karena keturunan dan bisa karena agama.

Jangan engkau jadikan harta, ketutunan maupun kecantikan sebagai alasan…
karena semua itu akan menyebabkan celaka.

Jadikan agama sebagai alasan…
Engkau akan mendapatkan kebahagiaan.

Saudaraku…
Tidak dipungkiri bahwa keluarga terbentuk karena cinta…
Namun jika cinta engkau jadikan sebagai landasan,
maka keluargamu akan rapuh, akan mudah hancur.

Jadikanlah Alloh sebagai landasan…
Niscaya engkau akan selamat
Tidak saja dunia, tapi juga akhirat…

Jadikanlah ridho Alloh sebagai tujuan……
Niscaya mawaddah, sakinah dan rahmah akan tercapai.

Saudaraku…
Jangan engkau menginginkan selalu menjadi raja dalam istanamu…

Disambut istri ketika datang dan dilayani segala kebutuhan…
Jika ini kau lakukan, istanamu tidak akan langgeng…

Lihatlah manusia teragung Rosululloh saw…
tidak marah ketika harus tidur di depan pintu, beralaskan sorban, karena sang istri tercinta tidak mendengar kedatangannya.

Tetap tersenyum meski tidak mendapatkan makanan tersaji dihadapannya ketika lapar……..
Juga menjahit sendiri bajunya yang robek…

Saudariku…
Jangan engkau menginginkan menjadi ratu dalam istanamu…

Disayang, dimanja dan dilayani suami…
Terpenuhi apa yang menjadi keinginanmu…
Jika itu engkau lakukan, istanamu akan menjadi neraka bagimu.

Saudaraku…
Jangan engkau terlalu cinta kepada istrimu…
Jangan engkau terlalu menuruti istrimu…
Jika itu engaku lakukan akan celaka…

Engaku tidak akan dapat melihat yang hitam dan yang putih,
tidak akan dapat melihat yang benar dan yang salah…..
Lihatlah bagaimana Alloh menegur Nabi-mu tatkala menghalalkan apa yang Alloh haramkan hanya karena menuruti kemauan sang istri.

Tegaslah terhadap istrimu…
Dengan cintamu, ajaklah dia taat kepada Alloh…
Jangan biarkan dia dengan kehendaknya…

Lihatlah bagaimana istri Nuh dan Luth…
Di bawah bimbingan manusia pilihan, justru mereka menjadi penentang…
Istrimu bisa menjadi musuhmu…
Didiklah istrimu…
Jadikanlah dia sebagai Hajar, wanita utama yang loyal terhadap tugas suami, Ibrahim.
Jadikan dia sebagai Maryam, wanita utama yang bisa menjaga kehormatannya…
Jadikan dia sebagai Khadijah, wanita utama yang bisa mendampingi sang suami,
Rosululloh saw menerima tugas risalah…

Istrimu adalah tanggung jawabmu…
Jangan kau larang mereka taat kepada Alloh…
Biarkan mereka menjadi wanita shalilah…
Biarkan mereka menjadi Hajar atau Maryam…
Jangan kau belenggu mereka dengan egomu…

Saudariku…
Jika engkau menjadi istri…
Jangan engkau paksa suamimu menurutimu…
Jangan engkau paksa suamimu melanggar Alloh…
siapkan dirimu untuk menjadi Hajar, yang setia terhadap tugas suami…
Siapkan dirimu untuk menjadi Maryam, yang bisa menjaga kehormatannya…
Siapkan dirimu untuk menjadi Khadijah, yang bisa yang bisa mendampingi suami menjalankan misi.

Jangan kau usik suamimu dengan rengekanmu…
Jangan kau usik suamimu dengan tangismu…
Jika itu kau lakukan,
Kecintaannya terhadapmu akan memaksanya menjadi pendurhaka…

Saudaraku…
Jika engkau menjadi ayah..
Jadilah ayah yang bijak seperti Lukman Al-Hakim
Jadilah ayah yang tegas seperti Ibrahim
Jadilah ayah yang kasih seperti Rosululloh saw

Ajaklah anak-anakmu mengenal Alloh…
Ajaklah mereka taat kepada Alloh…
Jadikan dia sebagai Yusuf yang berbakti…
Jadikan dia sebagai Ismail yang taat…
Jangan engkau jadikan mereka sebagai Kan’an yang durhaka.

Mohonlah kepada Alloh…
Mintalah kepada Alloh, agar mereka menjadi anak yang shalih…
Anak yang bisa membawa kebahagiaan.

Saudariku…
Jika engkau menjadi ibu,
Jadilah engaku ibu yang bijak, ibu yang teduh…
Bimbinglah anak-anakmu dengan air susumu…
Jadikanlah mereka mujahid…
Jadikanlah mereka tentara-tentara Alloh…
Jangan biarkan mereka bermanja-manja…
Jangan biarkan mereka bermalas-malas…
Siapkan mereka untuk menjadi hamba yang shalih…
Hamba yang siap menegakkan Risalah Islam.

Insya Alloh. Allohumma aamiin..:)
Assalamu`alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Ukhti… semoga Allah Ta`ala selalu menjagamu dalam ketaatan.

Aku tidak tahu harus berbuat apa yang terbaik ketika aku sadar dengan apa yang terjadi pada sahabatku ukhti Muslimah, aku sadari juga aku bukanlah orang yang tepat untuk berbicara masalah ini, tapi sebagai sahabatmu, inilah risalah untukmu ukhti Muslimah…

Terpikir olehku bagaimana bahagianya orang tua dan keluarga ketika ia melihat hadirnya seorang cucu dari anaknya sendiri, dan semua itu tak akan terjadi tanpa adanya sebuah ikatan suci yang mendahuluinya, yaitu sebuah pernikahan. Sebuah kata yang sakral, yang barangkali tak pernah terpikir sebelumnya bagaimana peliknya, atau bahkan belumlah terpikir bagaimana bahagianya, hidup bersama dengan orang yang begitu kita cintai, teman dan bukan hanya sekedar teman, bahkan ia adalah teman tanpa batas, seorang teman dari lawan jenis yang halal bagi kita.
Mungkin itu hanyalah sebuah pendahuluan yang tak berarti, Karena boleh saja untuk engkau lewati, tapi pasti tadi telah terbaca (-jangan bilang tidak), he he he…

Beralih ke pembicaraan kita …

Rasulullah telah bersabda dalam salah satu haditsnya bahwa seorang wanita itu dipilih karena empat perkara; namun, yang paling diutamakan adalah agamanya, kenapa? Karena dengan menikahi wanita yang beragama niscaya insya Allah hidupnya akan selamat baik itu di dunianya maupun di akhiratnya, begitu juga dengan wanita tak jauh beda haruslah ia juga memilih seorang laki-laki yang akan menjadi pendamping hidupnya itu seorang yang beragama, karena ia adalah akan menjadi pemimpin dalam sebuah keluarga. Dan yang akan bertanggung jawab di akhirat kelak tentang bagaimana kepemimpinannya di keluarganya (-karena yang kita bicarakan di sini adalah tentang itu).

Sekarang aku bertanya: sudah siapkah engkau dengan semua itu?
Ketika ada seorang yang datang kepadamu, apa yang engkau pikirkan? Apa yang engkau inginkan darinya? Kriteria yang bagaimanakah yang engkau dambakan? Apakah semua itu sudah ada padanya?

Kalau engkau pandang bagaimana agamanya, maka itulah yang ahsan, sebaik-baik pilihan. Karena dialah yang akan mendampingimu di dunia maupun di akhirat, insya Allah. Kalau yang engkau inginkan adalah seorang yang bisa menjagamu, menjaga agamamu, manjaga harga dirimu, maka itu juga bukan merupakan pilihan yang salah. Ataukah engkau inginkan seorang yang bisa menafkahimu baik lahir ataukah batin, bisa membahagiakanmu, maka demikianlah yang didambakan oleh setiap wanita. Ok! Kemudian apakah semua itu telah ada padanya?

Hanya dirimu yang bisa menjawabnya. Pikirkanlah.

Menikah… takut? Ragu? Ataukah perasaan apalagi?
Takut dengan orang tua yang nggak mengijinkanmu menikah saat ini?
Ragu apakah akan bisa mendapatkan pekerjaan setelah status menikah?

Ukhti… semoga Allah Ta`ala selalu menolongmu.

Barangkali suatu hal yang wajar ketika halangan untuk menikah adalah dari orang tua kita sendiri, barangkali mereka takut putrinya tidak bisa bekerja untuk membantu suamiya, terkadang yang banyak terjadi adalah perkataan sebagian orang: “Masak sih kami sebagai orang tuamu yang sudah menyekolahkanmu sampai setinggi ini akhirnya hanya menikah tanpa mencari kerja dulu…” Dan mungkin banyak perkataan serupa yang bisa saja keluar dari keluarga kita. Dan… semua itu akan kembali pada sejauh mana kita bisa mendekati mereka, mengajak bicara mereka, menasihati mereka kepada kebaikan dan ketaqwaan.

Ukhti… semoga Allah Ta`ala senantiasa menolongmu.

Berapa kali harus aku katakan, hendaklah kita bersabar dalam mendakwahi mereka…
Sungguh mereka itu adalah belum mengerti dan semoga Allah memberikan kepada kita petunjuk dan hidayah kepada mereka dan kepada kita. Wahai ukhti, berilah mereka pengertian dengan cara yang baik dan nasihat yang menyembuhkan dengan senantiasa berdoa memohon kepada Allah agar diberi kemudahan.
Kalau saja mereka para orang tua dapat berpikiran seperti apa yang kita pikirkan, barangkali pernikahan itu bukanlah sebuah permasalahan, hanya saja, terkadang masing-masing orang mempunyai keunikan sendiri-sendiri, ada yang orang tuanya sudah mengijinkan, justru anaknya belum siap, alasannya macam-macam, ada yang bilang merasa belum mampu untuk menjalaninya (-terus kapan?), ada yang bilang juga gak siap, ada yang bilang… banyak deh! (-tahu kan maksudku?)

Nah, masalah datang ketika kita semakin menunda-nunda pernikahan itu, apalagi bagi seorang wanita, pernah terpikir gak? Bagaimana ketika usia itu semakin bertambah, kita sudah tersibukkan oleh pekerjaan duniawi, sampai-sampai lupa memikirkan tentang menikah, bahkan gak terpikir lagi untuk menikah… aku yakin engkau bukan termasuk tipe ini. Hanya saja, sudahkah niatmu bulat untuk menikah? sudahkah engkau menargetkan di usia berapa akan menikah? Kembali lagi ke pertanyaan di atas, kriteria yang bagaimanakan yang engkau dambakan? Jangan sampai semua itu berlalu sia-sia hanya karena kesibukan dunia semata.

Kemudian untuk artikel pernikahan, atau menuju ke sana, aku gak bisa merujuknya secara tepat; nah, mungkin aku sarankan untuk membaca majalah-majalah seperti Majalah Nikah, Majalah Asy Syariah dalam halaman Sakinah, atau majalah lain yang Islami tentunya banyak engkau jumpai di toko buku atau internet…

Barangkali itu dulu aja yang bisa aku tuliskan, semoga ada manfaatnya bagi kita. Kalau ada benarnya itu datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, adapun jika terdapat banyak salah dan keliru itu datangnya adalah dari kebodohanku dan dangkalnya keilmuanku. Jadi, luangkan waktumu sekedar untuk mengkritisi kata-kataku atau sekedar jawaban dari pernyataan-pernyataanku di atas. Wallahu a’lam.

Jazakillahu khairan atas semuanya semoga Allah memberikan barakahNya kepadamu.

Assalamua`alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.


By: heane.
EPISODE 1 : 
Saat Fulanah masih seorang gadis, yang ada di benaknya dan yang kemudian menjadi tekadnya adalah keinginan menjadi isteri shalihat yang taat dan selalu tersenyum manis. Pendeknya, ingin memberikan
yang terbaik bagi suaminya kelak sebagai jalan pintas menuju surga.  
Tekad itu diperolehnya setelah mengikuti berbagai 'tabligh', ceramah dan seminar keputerian serta membaca sendiri berbagai risalah. Bahkan banyak pula ayat Al-Qur'an dan Hadits yang berkaitan dengan hal itu telah dihafalnya, seperti "Ar Rijalu qowwamuna alan nisaa'...","Fasolihatu qonitatu hafizhotu lilghoibi bima hafizhallah..." (QS. An-Nisa
ayat 34). Juga Hadits :"Ad dunya mata', wa khoiru mata'iha al mar'atussholihat." (dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalahisteri sholihat). Atau, hadits "Wanita sholihat adalah yang menyenangkan bila dipandang, taat bila disuruh dan menjaga apa-apa yang diamanahkan padanya. Begitu pula hadits "Jika seorang isteri sholat lima waktu,
shaum di bulan Ramadhan dan menjaga kehormatan dirinya serta suaminya dalam keadaan ridha padanya saat ia mati, maka ia boleh masuk surga lewat pintu yang mana saja. (HR Ahmad dan Thabrani). Hadits yang berat dan seram pun dihafalnya, "Jika manusia boleh menyembah manusia lainnya,maka aku perintahkan isteri menyembah suaminya." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi,Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)

Figur isteri yang sholihat, taat, dan setia serta qona'ah seperti Khadijah r.a. benar-benar terpatri kuat di benak Fulanah dan jelas ingin ditirunya. Maka, tatkala Allah SWT telah menakdirkan ia mendapat jodoh seorang Muslim yang sholih, 'alim dan berkomitmen penuh pada Islam, Fulanah pun melangkah ke gerbang pernikahan dengan mantap. Begitu khidmat dan khusyu karena kesadaran penuh untuk beribadah dan menjadikan jihad dan syahid sebagai tujuan hidup berumah tangga.


EPISODE 2 : 
Tatkala Fulan masih menjadi seorang jejaka, ia sering membatin, berangan-angan dan bercita-cita membentuk rumah tangga Islami dengan seorang Muslimah sholihat yang menyejukkan hati dan mata. Alangkah bahagianya menjadi seorang suami dan seorang "qowwam" yang "qooimin bi nafsihi wa muuqimun lil ghoirihi" (tegak atas dirinya dan mampu menegakkan orang lain, terutama isteri dan anak-anaknya). Juga menjadi 'imam yang adil' yang akan memimpin dan mengarahkan isteri dan anak-anaknya. 
Alangkah menenangkannya mempunyai seorang isteri yang akan dijaganya lahir dan batin, dilindungi dan disayanginya karena ia adalah amanah Allah SWT yang telah dihalalkan baginya dengan dua kalimat Allah SWT. Ia bertekad untuk mempergauli isterinya dengan ma'ruf (QS An-Nisa:19) dan memperhatikan hadits Rasulullah SAW tentang kewajiban-kewajiban seorang suami. "Hanya laki-laki mulialah yang memuliakan wanita." ,"Yang paling baik di antara kamu, wahai mu'min, adalah yang paling baik perlakuannya terhadap isterinya. Dan akulah (Muhammad SAW) yang paling baik perlakuannya terhadap isteri-isteriku." "Wanita seperti tulang rusuk manakala dibiarkan ia akan tetap bengkok, dan manakala diluruskan secara paksa ia akan patah." (HR. Bukhari dan Muslim) 
Fulan pun bertekad meneladani Rasulullah SAW yang begitu sayang dan lembut pada isterinya. Tidak merasa rendah dengan ikut meringankan beban pekerjaan isteri seperti membantu menyapu, menisik baju dan sekali-sekali turun ke dapur seperti ucapan Rasulullah kepada Bilal : "Hai Bilal, mari bersenang-senang dengan menolong wanita di dapur."
Karena Rasulullah suka bergurau dan bermain-main dengan isteri seperti berlomba lari dengan Aisyah r.a. (HR Ahmad), maka ia pun berkeinginan meniru hal itu.


EPISODE-EPISODE SELANJUTNYA :

Fulan dan Fulanah pun ditakdirkan Allah SWT untuk menikah. Pasangan yang serasi karena sekufu dalam dien, akhlaq, dan komitmen dengan Islam. 
Waktu pun terus berjalan. Dan walaupun tekad dan cita-cita terus membara, kini banyak hal-hal realistis yang harus dihadapi. Sifat, karakter, pembawaan, selera, dan kegemaran serta perbedaan latar belakang keluarga yang semula mudah terjembatani oleh kesatuan iman, cita-cita, dan komitmen ternyata lambat laun menjadi bahan-bahan perselisihan. Pertengkaran memang bumbunya perkawinan, tetapi manakala bumbu yang dibubuhkan terlalu banyak, tentu rasanya menjadi tajam dan tak enak lagi. 
Ternyata, segala sesuatunya tak seindah bayangan semula. Antara harapan dan kenyataan ada terbentang satu jarak. Taman bunga yang dilalui ternyata pendek dan singkat saja. Cukup banyak onak dan duri siap menghadang. Sehabis meneguk madu, ternyata brokoli' yang pahit pun harus diteguk. Berbagai masalah kehidupan dalam perkawinan harus dihadapi secara realistis oleh pasangan mujahid dan mujahidah sekalipun. 
Allah tak akan begitu saja menurunkan malaikat-malaikat untuk menyelesaikan setiap konflik yang dihadapi. "Innallaha laa yughoyyiru ma biqoumi hatta yughoyyiru maa bi anfusihim" (QS Ar-Raad : 6). 
Ada seorang isteri yang mengeluhkan cara bicara suaminya terutama jika marah atau menegur, terdengar begitu 'nyelekit'. Ada pula suami yang mengeluh karena dominasi ibu mertua terlalu besar. Perselisihan dapat timbul karena perbedaan gaya  bicara, pola asuh, dan latar belakang keluarganya. Kejengkelan juga mulai timbul karena ternyata suami bersikap 'cuek', tidak mau tahu kerepotan rumah tangga, karena beranggapan "itu kan memang tugas isteri." Sebaliknya, ada suami yang kesal karena isterinya tidak gesit dan terampil dalam urusan rumah tangga, maklum sebelumnya sibuk kuliah dan jadi 'kutu buku' saja. Fulan pun mulai mengeluh. Ternyata isterinya tidak se-"qonaah" yang
diduganya, bahkan cenderung menuntut, kurang bersahaja dan kurang bersyukur. Fulanah sebaliknya. Ia mengeluh, sang suami begitu irit bahkan cenderung kikir, padahal kebutuhan rumah tangga dan anak-anak terus meningkat. 
Seorang sahabat Fulan juga mengeluhkan isterinya yang sulit menerima keadaan keluarga. Sebab musababnya sih karena perbedaan status sosial, ekonomi dan adat istiadat. Kekesalannya bertambah-tambah karena dilihatnya sang isteri malas meningkatkan kemampuan intelektual, manajemen rumah tangga, serta kiat-kiat mendidik anak. Sebaliknya, sang isteri menuduh suaminya sebagai "anak mama" yang kurang mandiri dan tidak memberi perhatian yang cukup pada isteri dan anak-anaknya. Belum lagi problem yang akan dihadapi pasangan-pasangan muda yang masih tinggal menumpang di rumah orang tua. Atau di dalam rumah mereka ikut tinggal kakak-kakak atau adik-adik ipar. Kesemua keadaan itu potensial mengundang konflik bila tidak  bijak-bijak mengaturnya. 
Kadang-kadang semangat seorang Muslimah untuk da'wah keluar rumah terlalu berlebihan. Tidak "tawazun". Hal ini dapat menyebabkan seorang suami mengeluh karena terbebani dengan tugas-tugas rumah tangga yang seabreg- abreg dan mengurus anak-anak. Selanjutnya, ada pula Muslimah yang terlalu banyak menceritakan kekurangan suaminya, kekecewaan kekecewaannya  pada suaminya.  Padahal ia sendiri kurang instrospeksi bahwa ia sering lupa melihat kebaikan dan kelebihan suaminya. 
Ada suami yang begitu "kikir" dalam memuji, kurang "sense of humor" dan "sedikit" berkata lembut pada isteri. Kalau ada kebaikan isteri yang dilihatnya, disimpannya dalam hati, tetapi bila ia melihat kekurangan segera diutarakannya. Bahkan ada pula pasangan suami-isteri yang memiliki problem "hubungan intim  suami-isteri". Mereka merasa tabu untuk membicarakannya secara terus  terang di antara mereka berdua. Padahal akibatnya menghilangkan kesakinahan  rumah tangga. 
Kalau mau dideretkan dan diuraikan lagi, pasti daftar konflik yang terjadi antara pasangan suami-isteri muda Muslim dan Muslimah akan lebih panjang lagi. Memang, persoalan- persoalan tidak begitu saja hilang. Rumah tangga tidak pasti akan berjalan  mulus tanpa konflik hanya dengan kesamaan fikrah dan cita-cita menegakkan Islam. Mereka, yaitu Fulan dan Fulanah cs, tetap manusia-manusia biasa yang  bisa membuat kekhilafan dan tidak lepas dari kekurangan-kekurangan.  Dan mereka pun pasti mengalami juga fluktuasi iman. 
Pasangan yang bijak dan kuat imannya akan mampu istiqomah dan lebih punya kemampuan menepis badai  dengan menurunkan standar harapan. Tidak perluberharap muluk-muluk seperti  ketika masih gadis atau jejaka. Karena,ternyata kita pun belum bisa mewujudkan tekad kita itu. Sebagai Muslim dan Muslimah hendaknya kita sadar, tidak mungkin kita dapat menjadi isteri atau suami yang sempurna  seperti bidadari atau malaikat. Maka kita pun tentunya tidak perlu menuntut kesempurnaan dari suami atau isteri kita. 
"Just the way you are" lah. Kita terima pasangan hidup kita seadanya, lengkap dengan segala kekurangan (asal tidak melanggar syar'i) dan kelebihannya. Kita memang berasal dari latar belakang keluarga, kebiasaan, dan karakter yang berbeda, walau tentunya dien, fikrah, dan cita-cita kita sama. Pada saat ghirah tinggi, iman dalam kondisi puncak,
"Prima", semua perbedaan seolah sirna. Namun pada saat "ghirah" turun,iman menurun,  semua perbedaan itu menyembul ke permukaan, mengganjal, mengganggu, dan menyebalkan. Akibatnya tidak terwujud sakinah. 
Kiat utama mengatasi permasalahan dalam rumah tangga, tentunya setelah berdoa memohon  pertolongan Allah SWT dan mau ber "muhasabah"  (introspeksi), adalah mengusahakan adanya komunikasi yang baik dan terbuka antara suami-isteri.  Masalah yang timbul sedapat mungkin diselesaikan secara intern dulu di antara suami-isteri dengan pembicaraan dari hati ke hati. "Uneg-uneg" yang ada  secara fair dan bijak diungkapkan. Selanjutnya, yang memang bersalah diharapkan tidak segan-segan mengakui kesalahan dan meminta maaf.  Yang dimintai maaf juga segera mau memaafkandan tidak mendendam. Masing-masing pihak berusaha keras untuk tidakmengadu ke orang tua, atau orang lain. Jadi tidak membongkar atau membeberkan aib dan kekurangan suami atau isteri. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah tidak bandingkan suami atau isteri dengan orang lain,  karena itu akan menyakitkan pasangan hidup kita. Setelah itu,masing-masing juga perlu 'waspada' agar tidak terbiasa kikir pujian dan royal celaan. 
Jika terpaksa, kadnag-kadang memang diperlukan bantuan pihak ketiga (tetapi pastikan yang dapat dipercaya keimanan dan akhlaqnya) untuk membantu melihat permasalahan secara lebih jernih. Kadang-kadang "kacamata" yang kita pakai sudah begitu buram sehingga semua kebaikan pasangan hidup kita menjad tidak terlihat, bahkan yang terlihat keburukannya saja. Orang lain yang terpercaya InsyaAllah akan bisa membantu  menggosok 'kacamata' yang buram itu. Alhamdulillah ada yang tertolong dengan cara ini dan mengatakan setelah konflik terselesaikan mereka pun berbaikan lagi seperti baru menikah saja ! 
Dengan berikhtiar maksimal, bermujahadah, dan bersandar pada Allah SWT, InsyaAllah kita dapat mengembalikan kesakinahan dan kebahagiaan rumah tangga kita, serta kembali bertekad menjadikan jihad dan syahid sebagai tujuan kita berumah tangga. Amiin yaa Robbal'aalamiin.  
Wallahu a'lam bishowab.